Excepteur sint occa- ecat cupidatat

Excepteur sint occaecat cupid- atat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur

Excepteur sint occaecat cupid- atat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Suspendisse eget ante vitae ligula posuere

Excepteur sint occaecat cupid- atat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Quisque malesuada libero sed odio

Excepteur sint occaecat cupid- atat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Maecenas in enim vene- natis libero

Excepteur sint occaecat cupid- atat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Phasellus feugiat conse- ctetur sapien

Excepteur sint occaecat cupid- atat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Latest Articles

Melawan Mitos Menak Jinggo




Tokoh Menak Jinggo dalam Serat Damarwulan, memang digambarkan sebagai tokoh antagonis, pemberontak dan berwajah seram sesuai dengan perangainya. Namun bagi warga Banyuwangi, tokoh rekaan itu sudah menjadi mitos. Sebagian ada yang percaya atas kebenarannya, namun sebagian justru ‘memutarbalikan’ cerita rekaan yang dibuat oleh musuh Kerajaan Blambangan itu, karen mereka menangkap ada upaya tersetruktur untuk membunuh karaktaer orang Blambangan dengan menjelek-jelekan pimpinan atau raja Blambangan Menak Jinggo.
Pengertian mitos atau mite menurut JS Badudu (1986:45) adalah dengeng atau cerita tentang dewa-dewa atau pahlawan-pahlawan yang dipuja-puja. Keberadaan tokoh mitos, seperti diuraikan pakar Folklor, James Danandjaja, meski sebagai pribadi pahlawan-pahlawan mitos itu tokoh sejarah, namun riwayat hidupnya yang kita kenal dalam mite, bukan sejarah itu sendiri. Riwayat itu tidak diambilkan dari pribadi asli tokoh sejarah, melainkan diambil dari riwayat tradisional yang masuk dalam folklore (1984:60).
Realitas mitos pada sebagian masyarakat dipercayai kebenarannya, ada juga yang menjadikannya sebagai sumber kekuata, semangat hidup hingga menjadikan sikap hidup para tokoh mitos itu sebagai panutan yang patut diteladani. Inilah yang muncul dan terlihat pada syiar gending Banyuwangi, saat mereka bercerita tentang tokoh Menak Jingo. Tokoh antagonis dari Kadipaten Blambangan (sekarang Banyuwangi) dalam Serat Damarwulan, justru dielu-elukan sebagai pahlawan dalam membela tanah air.
Pertentangan keberadaan Serat Damarulan sendiri, bukan hanya di Banyuwangi yang merasa didikreditkan dengan penggambaran tokoh Menak Jinggo. Namun jauh sebelum itu, banyak pihak yang meragukan Serat Damarulan merupakan cerita yang berlatar belakang sejarag\h akhir kekuasaan Majapahit. Seorang pengarang besar era Pujangga Baru, Sanusi Pane. juga telah mengkritisi Serata Damarwulan. Karya Drama berjudul Sandyakala Ning Majapahit, ditulis tahun 1933 dan diterbitkan Balai Pustaka. Sanusi Pane tidak menjadikan Damarwulan sebagai pahlawan, melainkan Damarwulan sebagai penghinata dan dihukum mati.
Bahkan seorang sejarawan dari UGM. S Margana menulis secara krtis, jika Serat Damarwulan, baik yang berbentuk prosa, tembang maupun Langendriyan, muncul nama-nama tokoh seperti seperti Damarwulan, Menakjingga, Kencanawungu, Logender, Layang Seta dan Layang Kumitir, Anjasmara, Ranggalawe, dan sebagainya. Dari keseluruhan nama tokoh yang disebutkan itu hanya nama Ranggalawe yang dikenal dalam buku sejarah seperti yang diajarkan di sekolah-sekolah. Ranggalawe adalah Bupati Tuban yang dituduh memberontak kepada Majapahit. Munculnya tokoh ini dalam cerita Damarwulan menjadi pintu masuk untuk meneliti apakah tokoh-tokoh lain yang disebut dalam cerita ini adalah benar-benar tokoh sejarah atau hanya tokoh-tokoh fiktif atau rekaan semata.
Muncul dugaan, jika serat Damarwulan itu sengaja dibuat oleh orang-orang Mataram, setelah beberapa kali gagal menaklukan Blambangan secara penuh. Meski pernah berhasil menaklukan pemimpin perangnya, namun rakyat Blambangan tidak serta merta tunduk terhadapPenguasa Mataram. Berangkat dari kondisi inilah, para pujangga Mataram diperintahkan menulis serta yang mengambil latar belakang sejarah Majapahit.
Dari beberapa karya tulis tentang Serat Damarulan, juga banyak ditulis oleh orang-orang Mataram. Seperti: Koesoemawardhani, Goesti Raden Adjeng Siti Noeroel Kamaril Ngasarati. Damar Woelan ngarit; Toneelstuk van de Langendrija-Klitik (lakon wayang klitik). Soerakarta, 1930; Sastradiredja, Mas. Wawatjan Damarwoelan. Penerbit Balai Poestaka, Batavia, 1931; Moeis, Abdoel. Hikajat Damar Wulan. Penerbit G. Kolff, Bandung, 1950; Tjakraningrat, Kangdjeng Pangran Harja. Serat Damarwulan. Penerbit R. Soemodidjojo, Ngajogjakarta Hadiningrat, 1953.
Terlpas dari pedebatan panjang tentang Serat Damarulan, para pengarang gending Using (Banyuwangen), telah mengambil sikap protes keras terhadap peredaran cerita itu. Bahkan dalam cerita Janger (Drama Tradisional Banyuwangi), tokoh Menak Jinggo digambarkan sebagai Raja yang arif bijaksana, berwibawa dan dicintai rakyatnya. Judul ceritanya juga diubah menjadi Menak Jinggo Nagih Janji, bukan Damarulan mengalahkan Menak Jinggo seperti dalam cerita Ketoprak (Drama Tradisional Jawa). Bahkan dalam retang tahun 1970-an, ada tiga Gending Using yang mengambil tema tentang tokoh Menak Jinggo: Pertama, “Menak Jinggo” (Andang CY); kedua Pahlawan Blambangan (Armaya) dan ketiga Jimat Wesi Kuning (Fatrah Abal).
Sapa bain arep takon aran isun Menak Jinggo
Lamat-lamat semriwing ring kuping
Nalikane isun kelayung-layung nang gendongan
Emak_Bapak sing leren-leran ngudang
Anak isun lanang satria bagus gagak perkasa
Dadio agul-agul sun iring puja lan puji

Sapa bain arep takon aran isun Menak Jinggo
Isun sing perduli asal isun teko endi
Embuh lahir nong keratin emboh lahir nong galengan
Emak-Bapak karepe wis sun turuti
Sun ancep tanggul-tanggul lan umbul-umbul
Sak ubenge tanah Blambangan
Sapa bain arep takon aran isun Menak Jinggo
Pancen ono pecake tatu ring awak isun
Peningsite tanda bakti nong Raja Majapahit
Ngukuhaken jejege sengker Blambangan
Sing arep nggisir teka isun mulyaaken Blambang
Syair/lagu : Andang CY/BS Noerdian
Tahun cipta/popular :September 1972/1974
Instrumen pengiring : Angklung
Produksi Rekaman :Sarinande Record Banyuwangi

Dalam gending Menak Jinggo, tokoh mitos seakan-akan benar adanya, semangat dalam membela kebenearan dan menjunjung tinggi keadilan cukup tinggi. Pengarang seakan ingin menanamkan cinta tanah air (daerah), dengan menghidupkan Tokoh yang selama ini didikreditkan dan menjadi anak-anak muda Banyuwangi menjadi mider dan kurang percaya diri.
Dalam kisah Serat Damarulan, Menak Jinggo digambarkan mempunyai sifat yang tidak terpuji, suka memberontak dan merebut istri orang. Bahkan dalam pementasan Ketoprak, tokoh Menak Jinggo digambarkan jalannya picang, mukanya rusak sebagai gambaran orang jahat. Namun cerita itu ditentang habis oleh pengarang Gending Using, ditentang realitas dalam cerita itu dengan memberi nilai positif terhadap watak tokoh Menak Jinggo. Bukan sebagai pecundang, melainkan seorang pahlawan dengan gagah berani membela tanah airnya.
Meskipun dalam catatan sejarah, raja Blambangan tidak pernah ada yang bernama Menak Jinggo, namun masyrakat yang merima cerita lisan dan pentas drama tradisonal itu akhirnya menjadi risih. Bahkan mereka merasa terhina, jika melihat pementasan Ketoprak dengan lakon Damarulan. Mereka meyakini, cerita Damarulan ini buah karya dari orang-orang Mataram. Makanya tidak heran, jika cerita ini sangat dikenal di daerah Jawa Tengah.
Realitas mitos dalam karya sastra (serat Damarulan) dengan realitas dalam masyarakat, masing-masing mempunyai makna tersendiri. Realitas mitos dalam masyrakat, mencerminkan pandangan masyarakat terhadap miyos itu sendiri. Pengarang gending mengakui, dampak buruk yang disebabkan perkembangan cerita dalam Serat Damarulan yang sudah menjadi mitos. Oleh kare itu, pengarang juga mengkoter balik melalui karya sastra (gending). Pengarang tidak prontal mengatankan bahan cerita itu bohong, karena sudah terlalu lama diterima masyrakata. Namun dengan cari menyelewengkan kisah dan memberi sifat-sifat positif, diharapkan mampu mengkikis perasaan rendah diri akibat penggambaran buruk Raja di daerahnya.
Raja gagah hang ganteng rupane
Dedege kukuh njanjang kemerdep klambine
Iku Menak Jinggo pahlawan Blambangan
Sakti mondroguno wateke teges terang-terangan

Kadung ngomong gromsyon nyenengaken
Mula rakyate akeh hang pada kentelan
Gede perbawane bisa dipercoyo
Sing gampang nyerah keneng ditiru dienggu tulodo
Menak Jinggo rame dsadi fitnahan
Dikira arek nganaaken pemberontakan
Saktemene mung milu takon nang pamane
Apuo gok Kenconowungu hang mangku Ratu
Lahire perang Majaphit-Blambangan
Dudu soal sepele mbbela nama lan kehormatan
Dilakoni agus getih nuntut keadilan
Menak Jinggo lila mati kanggo bumi Blambangan
Judul gending : Pahlawan Blambang
Syair/lagu : Armaya/Mahfud Hr.
Tahun cipta/popular :1973/1974
Interumen pengiring :Angklung
Produksi rekaman :Ria Record Banyuwangi

Gending Pahlawan Blambangan tidak jauh berbeda dengan gending Menak Jinggo, tetapi ada kesan yang menonjol yaitu mengkultusan tokoh Menak Jinggo. Jika dalam Serat Damarwulan digambarkan pisik tokoh Menak Jinggo yang rusak, jalan pincang, cara bicaranya kasar dan sebagai pemberontak. Namun dalam gending Pahlawan Blambangan, pengarang justru membalik 180 derajat diskripsi itu. Selain digambarkan seorang Raja yang gagah berani, berwibawa, santun gaya bicaranya dan sangat dicintai rakyatnya.
Jika dalam Serat Damarulan menganggap Menak Jinggo sebagai tokoh pemberontak, pengarang gending justru menganggap pernyataan itu sebagai fitnah. Sejarang selisih paham Blambangan-Majaphit juga dijadikan landasan, untuk menentang kenyataan mitos Damarulan. Bahkan, Armaya yang menulis syair gending, juga pernah menulis makalah, jika perang antara Majapahit-Blambangan itu memang pernah ada. Saat itu Blambangan dipimpin seorang Adipati Bre Wirabumi sekitar tahun 1404-1406 (Armaya, 1992).
Menurut sejumlah sejarawan, Serat Damarulan merupakan karya fiksi yang mengambil setting perang Parereg atau peristiwa pemberontakan Pengeran Sadeng. Namun rakyat kecil tidak mau tahu tentang semua itu, mereka hanya menghubung-hubungkan saja. Meski Serat Damarulan dianggap fiksi, tetap saja rakyat mempercayai adanya setelah mereka membaca sejarah ternyata antara Blambang dan Majapahit pernah berkonflik. Inilah lihainya penguasa Mataram, dalam memamfaatkan sejarah itu guna kepentingan kekuasaannya.
Wesi kuning jimat Blambangan
Mandraguna sapa hang duwe
Menak Jinggo satria nyata
Sakti adil kanggo negoro

Ayo kabeh lare Blambangan
Nyang endi bain siro ning dunya
Enggonen jimat wesi kuning
Uripono jiwa satria
Sing gampang niru Menak Jinggo
Tekade atos koyo wesi
Tingkah polahe jujur lan joyo
Kaya kuninge barang hang aji
Aja mundur satria Blambangan
Dung iku kanggo keadilan
Paran maning kanggone nusa
Ikhlasno nyawa lan raganiro
Judl gending : Jimat Wesi Kuning
Syair/lagu : Fatrah Abal/ BS Noerdian
Tahun cipta/popular :
Instrumen pengiring :
Produksi rekaman :

Fatrah Abal sang pengarang gending Jimat Wesi Kuning, tidak berkutat pada pertentangan baik buruknya Menak Jinggo. Namun Fatrah Abal mencoba mengurai makna symbol dari Jimat Wesi Kuning yang kono disebut-sebut sebagai sejnata pamungkas milik Menak Jinggo. Spiritnya sama, Fatrah ingin memberi nilai positif tentang sosok Menak Jinggo. Bahkawa tidak mudah menjadi Menak Jinggo dan perlu ditauladani, pengorbanannya, semangat nasionalisme dan perjuanganya.
Dalam pesannya Fatrah Abal meminta kepada generasi muda Banyuwangi di manapun berada, agar mempunyai tekad yang kuat seperti baja (wesi) dan mengharumskan nama daerah dengan prestasi seperti kemilau warna emas (kuning).
Dari ketiga gending tadi, kita sudah bisa memperoleh gambaran umum masyarakat Banyuwangi tentang mitos Menak Jinggo. Para pengarang gending sengaja membiarkan mitos Menak Jinggo tetap dihati masyrakat, namun dengan memberi semangat baru dengan merubah diksripsi negative menjadi positif. Mereka menolak gambaran tentang tokoh Menak Jinggo yang disebut sebagai Raja Blambangan, karena penggambaran yang dianggap merugikan. Namun bentuk penolakan itu, juga dalam bentuk karya sastra dan berkembang di Banyuwangi. Para pengarang ini juga tidak mau intervensi maupun usul kepada penbguasan yang lebih luas kekuasaannya, atas berkembangnya penggambarkan tokoh Menak Jinggo yang dianggap merugikan. Namun pada tahun 1984, Seniman, Budayawan dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, pernah menolak pemuran film dengan judul Damarwulan. Film itu meski dalam cerita banyak berlokasi di Blambangan (Banyuwangi sekarang), namun sang sutradara tidak pernah mengambil gambar di sana. Selain itu, juga tidak pernah konsultasi tentang keberadaan Mitos Damarulan di mata masyarakat Banyuwangi.

Menengok Desa Wisata Kemiren


Desa Wisata Osing atau Using berada di Desa Kemiren , Kecamatan Glagah di Kabupaten Banyuwangi. Penduduk di desa ini merupakan kelompok masyarakat yang memiliki adatistiadat dan budaya khas sebagai satu suku, yang dikenal sebagai suku Osing (Using). Pemerintah menetapkannya , sebagai daerah eagar budaya dan mengembangkannya sebagai Desa Wisata (Suku) Using (Osing)
 
Memasuki Desa Kemiren benar-benar terasa berada di tempat  yang patut dinikmati sebagai satu pengalaman baru  Bangunan mmah berjajar dan saling berdekatan di komplek pemukiman yang padat penduduk dt sepanjang jalan menyambut wisatawan sebelum tiba di tempat rekreasi.
 
Dalam bercocok tanam, masyarakat Kemiren menggelar tradisi selamatan sejak menanam benih, saat padi mulai berisi, hingga panen. Saat masa panen tiba, petani menggunakan ani-ani diiringi tabuhan angklung dan gendang yang dimainkan di pematang-pematang sawah.Saat menumbuk padi, para perempuan memainkan tradisi gedhogan, yakni memukul-mukul lesung dan alu sehingga menimbulkan bunyi yang enak didengar.

Setelah ditetapkan menjadi Desa Wisata Using, tahun 1995 Bupati Purnomo Sidik membangun anjungan wisata yang terletak di utara desa. anjungan yang berdiri di atas lahan 2,5 hektar ini dibangun dengan biaya Rp 4 miliar. Anjungan ini dikonsep menyajikan miniatur rumah-rumah khas Using, mempertontonkan kesenian warga setempat, dan memamerkan hasil kebudayaan.


Di tempat rekreasi dibangun fasilitas wisata seperti kolam renang, tempat bermain, dan tentu saja ada bangunan rumah khas masyarakat Osing serta bangunan museum modern yang mamajang berbagai perlengkapan dan pernik budaya Osing. Cukup dengan uang Rp 5.000 untuk tiket masuk, wisatawan bisa menikmati fasilitas rekreasi sepuasnya.
Posisi Desa Kemiren sangat strategis menuju wisata Kawah Ijen. Desa ini merniliki luas117.052 m2 memanjang hingga 3 km yang di kedua sisinya dibatasi oleh dua sungai, Gulung dan Sobo yang mengalir dari barat ke arah timur. Di tengah-tengahnya terdapat jalan aspal selebar 5 m yang menghubungkan desa ini ke kota Banyuwangi di sisi timur dan pemandian Tamansuruh dan ke perkebunan Kalibendo di sebelah barat. Pada siang hari, terutamapada hari-hari libur, jalan yang membelah Desa Kemiren cukup ramai oleh kendaraan umum dan pribadi yang menuju ke pemandian Tamansuruh, perkebunan Kalibendo maupun ke lokasi wisata Desa OSing.
 
Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah mempertemukan pengusaha Bali dan Banyuwangi yang dikemas dalam Gathering Night in Bali. Dengan harapan meningkatkan kunjungan wisata ke Banyuwangi  “Selain itu kami juga bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur misaInya melalui Majapahit Travel Fair yang akan berlangsung bulan Mei.”
Sejarah Masyarakat Osing
Desa.yang berada di ketinggian 144 m di atas p ermukaan laut yang termasuk dalam topografi rendah dengan curah hujan 2000 mm/tahun sehingga memiliki suhu udara rata-rata berkisar 22-26°C ini rnemang cukup enak dan menarik dari sudut suhu udara dan pemandangan untuk wisata.
Mengamati bentuk rumah di Kemiren sepertinya sarna. Namun jika diamati lebih teliti ada perbedaan pada atap rumah yang ternyata menandai status penghuninya. Rumah yang beratap empat yang disebut ‘tikel balung’ melambangkan bahwa penghuninya sudah mantap. Rumah ‘crocogan’ yang beratap dua mengartikan bahwa penghuninya adalah keluarga muda dan atau keluarga yang ekonominya relatif rendah, dan rumah “baresan’ yang beratap tiga yang melambangkan bahwa pemiliknya sudah mapan, secara ma·teri berada di bawah rumah bentuk ‘tikel balung’ .
Hampir di setiap rumah ditemukan lesung (alat penumbuk padi), dan gudang tempat menyimpan sementara hasil panen. Di beberapa sudut jalan tampak gubuk beratapkan ilalang, yang dibangun di ujung kaki-kaki jajang  (bambu, dalam bahasa Osing) yang tinggi. Bangunan ini digunakan oleh masyarakat untuk “cangkruk” sambil mengamati keadaan di sekeliling desa. Pada masa lalu, gubuk seperti ini sengaja dibangun untuk memantau kedatangan “orang asing” yang mencurigakan.
Sejarahnya, suku Osing saran seperti suku Tengger, yang merupakan masyarakat yang setia kepada Raja Majapahit yang menyelamatkan diri ketika kerajaan diserang dan runtuh sekitar tahun 1478 M. Sebagian berhenti di pegunungan Tengger (sekarang menjadi kelompok masyarakat suku Tengger) di Probolinggo dan sebagian melanjutkan perjalanan hingga ke ujung timur P Jawa (Banyuwangi). Ada pula
kelompok yang terus menyeberangi selat (Bali). Kelompok masyarakat yang mengasingkan diri ke ujung timur Jawa ini kemudian mendirikan kerajaan Blambangan di Banyuwangi yang bercorak Hindu-Buddha seperti halnya kerajaan Majapahit. Kerajaan Blambangan berkuasa selama dua ratusan tahun sebelum jatuh ke tangan kerajaan Mataram Islam pada tahun 1743 M.
Orang-orang Osing adalah masyarakat Blambangan yang tersisa. Keturunan kerajaan Hindu Blambangan ini berbeda dari masyarakat lainnya (Jawa, Madura dan Bali), bila dilihat dari adat-istiadat budaya maupun bahasanya. Desa Kemiren lahir pada zaman penjajahan Belanda, tahun 1830-an. Awalnya, desa ini hanyalah hamparan sawah dan hutan milik penduduk Desa Cungking yang merupakan cikal-bakal masyarakat Osing. Hingga kini
Desa Cungking juga masih tetap ada. Letaknya sekitar 5 km arah timur Desa Kemiren. Hanya saja, saat ini kondisi Desa Cungking sudah menjadi desa kota.
Saat itu, masyarakat Cungking memilih bersembunyi di sawah untuk menghindari ten tara Belanda. Para warga enggan kembali ke desa asalnya di Cungking. Maka dibabatlah hutan untuk dijadikan perkampungan. Hutan ini banyak ditumbuhi pohon kemiri dan durian. Maka dari itulah desa ini dinamakan Kemiren. Pertama kali desa ini dipimpin kepala desa bernama Walik. Konon dia termasuk salah satu keturunan bangsawan.
Seperti halnya masyarakat suku Tengger, masyakat Osing di Kemiren bukan masyarakat eksklusif yang menutup diri seperti suku Badui. Di satu sisi, mereka sangat terbuka terhadap kemajuan jaman, seperti tampak pada eara berpakaian dan arsitektur rumah masa kini. Tapi di sisi lain, mereka kukuh menjalankan tradisi nenek moyang, mulai kehidupan sehari-hari sampai yang sacral seperti perkawinan sekalipun.
Cagar Budaya
Desa Kemiren telah ditetapkan sebagai Desa Osing yang sekaligus dijadikan cagar budaya untuk melestarikan keosingannya. Area wisata budaya yang terletak di tengah desa itu menegaskan bahwa desa ini berwajah Osing dan diproyeksikan sebagai eagar budaya Osing. Banyak keistemewaan yang dimiliki oleh desa ini di antaranya penggunakan bahasa yang khas yaitu bahasa Osing.
Kekhasan kehidupan dan pemukiman penduduk serta adat-istiadat suku Osing menjadi modal utama pemerintah daerah membangun Desa Wisata Osing. Wisata Osing yang sebenarnya adalah wisata budaya. Fasilitas rekreasi hanya merupakan tambahan yang dibangun sebagai pelengkap
Coba berkunjung ke desa ini pada saat diselenggarakan upacara adat “Ider Desa” misalnya, maka paket wisata budaya di Kemiren sangat lengkap.
Para ahli sejarah lokal cukup yakin bahwa julukan “Osing” itu diberikan oleh para imigran yang menemukan bahwa kata “tidak” dalam dialek lokal adalah “Osing”, yang berbeda dari kata “ora” dalam bahasa Jawa. Orang yang sebenarnya Jawa itu kini disebut Osing saja atau juga disebut Jawa Osing.
Ini memiliki ciri khas yaitu ada sisipan “y” dalam pengucapannya. Seperti contoh berikut ini: madang (makan) dalam bahasa Osing menjadi “madyang”, abang (merah) dalam bahasa Osing menjadi “abyang”. Masyarakat desa ini masih mempertahankan bentuk rumah sebagai bangunan yang memiliki
Keunikan lainnya terdapat pada tradisi masyarakat yang mengeramatkan situs Buyut Cili, tiap malam Senin dan malam Jumat warga yang akan membuat hajatan selalu melakukan doa dengan membawa “pecel pitik” atau yang bias a kita kenal dengan sebutan urap-urap ayam bakar di situs Mbah Buyut Cili yang dipercaya sebagai salah seorang leluhurnya.
Pendatang yang bermalam di desa ini juga dianjurkan untuk berziarah ke situs Buyut Cili guna meminta izin demi keselamatan dirinya serta dilancarkan urusannya selama berada di Desa Kemiren Buyut Cili ini dipercaya bisa mengabulkan permintaan masyarakat yang berziarah, asalkan permintaan tersebut bersifat baik. Salah satu caranya adalah dengan meminta berbagai bunga yang ada di makam tersebut kepada penjaga makam kemudian bunga tersebut dicampur dengan air untuk diminum tapi sebelumnya harus membaca basmalah dan shalawat 3x .

 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------

                                                            Menelisik Keberadaan Sastra Using


Membicarakan Sastra Using, sama halnya dengan membecirakan Bahasa Using sebagai Bahasa tersendiri. Banyak orang yang ragu, apakah ada Sastra Using. Kalau ada, terus apa bentuk karyanya. Dibanding dengan Sastra Daerah lain yang berdekatan, seperti Jawa, Bali dan Madura, memang Sastera Using tidak sekaya ketiga Sastra daerah itu. Namun, bahwa ada tersendiri sastra Using, inilah yang perlu diungkapkan ke permukaan terlebih dahulu.
Sebagai kawasan yang berkembang di luar Keraton, tradisi Kesusastraan di Banyuwangi banyak menggunakan media lisan. Sehingga, agak kesulitan dan perlu kerja keras untuk merekonstruksi kehidupan Sastra Using pada masa silam melalui bukti-bukti tertulis. Namun dalam Ensiklopedi Indonesia (1987: 399) disebutkan: Sampai abag ke-18 masih ada penganut Agama Hindu dan bahkan aliran sastra yang disebut Aliran Banyuwangi. Misalnya naskah Sri Tanjung dan naskah Sang Satyawan berasal dari aliran itu. Pada masa Majapahit kedua cerita itu sudah terkenal, karena dipahat di teras Pendopo Penataran di Blitar.
Dari pernyataan itu bisa disimpulkan, bahwa Sastra di Banyuwangi (dulu Blambangan) pernah mengalami kejayaan, dengan tampil beda dibanding karya sastra sejamannya. Ciri yang menonjol dari Sastra Banyuwangi adalah tradisi lisannya, seperti dikemukakan Van Stein Callenfels berupa ulasan kritis terhadao kitab Sudamala. Bahwa dalam permulaan atau tengah kitab Sudamala, diteruskan secara lisan. (Kalangwan, Zoermulder 1985: 57). Penggunaan kata mangke atau mangko yang sering muncul dalam Sudamala, terkesan kaku dan kurang luwes. Bahkan bila dibaca keseluruhan, dalam karya itu (Sudamala) terkesan banyak varian. Mungkin ini adanya kesalahan dari tukang cerita, karena bisa ditambah atau berkurang saat karya itu disampaikan.
Pernyataan van Stein Callenfels ini diperkuat oleh Poerbatjaraka (1952: 81-81), jika kita Sudamala itu dianggap buatan orang Desa. Cara mencari Ding-Dong (persajakan) hanya menggunakan kata mangke dan mangke saja. Bahkan Poebatjarakan mengaku kesulitan menamakan Tembang dalam setiap pupuh di kitab Sudamala itu, karena tidak sama dengan pakem Jawa yang berlaku saat itu. Namun Zoemulder memastikan, jika Sumala dan Sri Tanjung itu termasuk dalam jenis Kidung. Meski ia kesulitan menyebut, apakah keduanya termasuk teks sastra atau bukan. Ciri yang paling menonjol adalah sifat kerakyatan dan tidak mempunyai latar belakang Keraton. (1985: 540).
Nah dalam perkembangan selanjutnya, ternyata gaya dan cara pengucapa Sastra Using ini tidak jauh berbeda dengan yang disebutkan oleh para pakar Satra Jawa Kuno itu. Penggunaan kata eman, jare paman, alak emas, a-ang dan e-eng, untuk sekedar menggenapi Guru Wilangan (jumlah kata), atau guru lagu (persamaan bunyi).
Apabila sudah yakin bahwa Sastra Using memang ada, tentu kita masih meragukan, jika hanya ditandai oleh tiga buah karya Sang Satyawan, Sudamala dan Sri Tanjung saja. Ternyata setelah Perang Puputan Bayu tahun 1772, mulai ada sejumlah karya Sastra di bumi Blambangan ini dalam bentuk tulis, yaitu Babad Blambangan, Babad Tawang Alun, Babad Wilis dan cerita-cerita tentang Kerajaan Macan Putih. Dalam perkembangan selnjutnya, Sastra Using kembali berkutat dalam tradisi lisan. Mungkin ini tidak bisa dilepaskan kondisi saat itu, Blambangan yang dijadikan bulan-bulanan Mataram dan selanjtnya oleh Belanda. Karya Sastra Using lisan yang paling menonjol adalan Podho Nonton.
PODHO NONTON
Podho nonton
Pundak sempal ring lelurung
Ya pendite pundak sempal
Lambeane para putra
Kejala ring kedung sutra
Tampange tampang kencana
Kembang menur
Melik-melik ring bebentur
Sun siram-siram alum
Sun pethik mencirat ati
Lare angon
Gumuk iku paculono
Tandurono kacang lanjaran
Sak unting oleh perawan
Kembang gadung
Sak gulung ditawa sewu
Nora murah nora larang
Hang nowo wong adol kembang
Sun barisno ring Temenggungan
Sun iring payung agung
Lambeane membat mayun
Kembang abang
Selebrang tibo ring kasur
Mbah Teji balenono
Sun enteni ring paseban
Dung Ki Demang mangan nginum
Seleregan wong ngunus keris
Gendam gendis kurang abyur

Bentuk dan isi syair Podho Nonton ini sangat bebas, tidak terikat guru lagu dan guru wilangan seperti yang lazim dalam Sastra Jawa. Syair tersebur sudah tidak diketahui nama penciptanya, namun menjadi pakem dalam setiap ritual Seblang dan pementasan kesenian Gadrung. Namun alamrhum Hasan Ali (Budayawan Banyuwangi) kepada penulis pernah mengatakan, jika syair Podho Nonton itu dibuat sekitar tahun 1800-an. Selain itu masih ada lagi karya Satra Using Klasik, yaitu Seblang Lukinta, Sekar Eleg, Tajog, Kabor, Terong Condong, Bebarongan, Tanjung Burung dan masih banyak lagi.
Akibat mengandalan perkembangan tradisi lisan, adanya perbedaan satu dengan lainnya juga mulai muncul. Seperti syair podho nonton tadi, bisa berkembang menjadi beberapa judul, karena hanya dinyanyikan dalam satu bait dan diberi judul tersendiri. Padahal, karya itu merupakan satu kesatuan. Sehingga dalam masyrakat Using pada waktu itu ada yang menyebut judul Kembang Menur; Kembang Gadung dan Kembang Abang. Inilah yang disebut Suripan Sadi Hutomo (1991:12) sebagai kelemahan sastra lisan, karena dalam perjalanan dari generasi ke generasi berikutnya adan mudah terjadi penyimpangan dan penyelewengan kosa kata yang akhirnya mempengaruhi isinya.
Sastra Using Klasik kebanyakan disosialisasikan dalam ritual Seblang, baik yang di Oleksari maupun Bakungan. Namun dalam perkembangan selanjutnya, kesenian Gadrung juga masih menjadikan Syair Podho Nonton sebagai pakem pembukan, serta diakhiri dengan Seblang Subuh. Pada kesenian Gadrung inilah, kemudian muncul karya Satra Using yang lebih baru. Meski dalam sosialisasinya masih menggunakan lisan, tetapi sudah dalam bentuk rekaman kaset. Sehingga penyimpangan teks dan salah ucap bisa ditekan, kendati tdaik bisa seratus persen. Ini semata-mata akibat mutu rekaman yang kurang bagus, sehingga harmonisasi vokal dan instrumen musik tidak imbang. Sehingga pendengar, juga masih meraba-raba jika ada kosa kata yang tidak jelas diucapkan.
Dari segi tema memang mulai ada pergeseran, karfena sesuai dengan situasi. Jika sebelumnya banyak bercerita tentang pembberonakan, kepahlawan dan hakekat hidup, pada kesenian Gadrung syairnya banyak bercerita tentang percintaan, selain masih mengembangkan tema kepahlawan dan adat istiadat yang berlaku dalam kehidupan masyrakat Using.
Dari jenis nyang digunakan, tidak lagi dalam bentuk Tembang secara utuh dan menyeluruh. Namun lebih banyak dalam bentuk karya Puisi, dengan pola memertahankan puisi tradisional seperti dalam bentuk Wangsalan (teka-teki), Basanan (pantun), Syiiran (syair) dan ungkapan-ungkapan khas Banyuwangi. Ada beberapa karya Sastra Lisan yang terbaru dan sering dibawakan kesenin Gandrung, yaitu Opak Apem; Keok-Keok; Erang-Erang; Thethel-Thethel; Kusir-Kusir; Gurit Mangir; Embat-Embat; Sawunggaling; Jaran Dawuk dan masih banyak lagi. (bersambung)


 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------


                                             Menengok Tradisi Mantu Kucing di Banyuwangi


Banyuwangi - Warga Desa Kumendung, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, memiliki hajatan besar. Warga mengarak keliling kampung sepasang calon pengantin sebelum akhirnya dikawinkan dihadapan ratusan warga, Minggu (13/11/2011).

Acara itu awal dari rangkaian tradisi mantu kucing yang disakralkan warga setempat. Seperti nama tradisinya. Yang diarak warga bukanlah pengantin manusia. Melainkan sepasang kucing jantan dan betina yang sudah dewasa.

Uniknya, kucing yang akan dikawinkan itu haruslah milik perangkat atau kerawat desa setempat. Kucing jantan yang diberi nama Joko Subroto, hari itu milik Kepala Dusun Kumendung, Ponidi. Sedangkan kucing betina yang diberi nama Ririn Wafiroh milik Susanto, Kepala Dusun Sumberjoyo.

"Kucing yang akan dimantu haruslah punya kerawat desa," ujar Blegenk Iswahyudi, pemerhati budaya Jawa di Banyuwangi pada detiksurabaya.com dilokasi.

Calon pengantin dimasukan dalam kandang kayu, dan diarak dari tempat asal masing-masing. Sepanjang perjalanan, arak-arakan diiringi alunan musik tradisional dan tari barongan. Diperjalanan, sesekali barongan yang menyerupai kucing besar tersebut menggoda warga yang menonton.

Calon pengantin akhirnya dipertemukan disebuah sumber air sakral yang ada ditengah persawahan setempat. Disanalah akhirnya kedua mempelai itu dikawinkan. Namun butuh 'perjuangan' bagi keluarga mempelai pria untuk menyakinkan keluarga mempelai wanita.

"Perwakilan keluarga pria harus menang bertarung dulu dengan keluarga wanita," tambah Blegenk.

Setelah syah menjadi pasangan suami istri, akhirnya pengantin kucing tersebut dibawa ke mata air keramat. Disana, keluarga mempelai, pegawai Pemerintah Desa setempat, menceburkan diri seraya mencipratkan air ke arah warga lainnya.

Tradisi mantu kucing ini adalah upaya untuk melestarikan budaya dan kearifan lokal. Diawal kemunculannya, mantu kucing adalah bentuk upacara adat sebagai penolah musibah kekeringan atau untuk mendatangkan hujan.